Nama TUHAN
Ringkasan Khotbah 24 Mei 2009 Pdt. Surya Harefa
“Nama Tuhan” (Keluaran 3:13-22)
Nama adalah sesuatu yang sangat penting, jalan untuk kita mengenal seseorang, juga ada maksud arti dari orang tua yang memberikan nama, dan menggambarkan kepribadian seseorang dari nama tersebut. Begitu juga dengan nama Tuhan, berkepribadian dari sang Pencipta.
Musa pertama kali bertanya tentang nama TUHAN (Kel 3:13). Ada 3 hal mengenai nama TUHAN:
1. Aku adalah Aku (Kel 3:14). “Aku” (bahasa Ibrani: hayah) artinya "ada” atau “hidup”. Sebelum dunia ini ada Allah sudah ada. Allah hidup, Dia bukan buatan manusia seperti patung, gambar, dll. Keberadaan Allah berbeda dari keberadaan semua makhluk hidup lainnya karena Allah tidak memperoleh hidup-Nya dari sumber lain di luar diri-Nya (Yoh 5:26, Kej 1:1). Tetapi ini bukan berarti Allah menjauhkan diri dan tidak peduli dengan manusia. Justru karena kasih karunia dari Allah pencipta yang memberi kesempatan bagi manusia untuk melayani-Nya melalui gereja, persekutuan, keluarga dan lingkungan tempat tinggal kita sebagai pekerja-Nya.
2. TUHAN (Kel 3:15). Allah menyatakan diri-Nya sebagai TUHAN (Ibrani: YHWH) yang berarti “yang ada”, “ada dengan sendirinya” atau “kekal”. Dalam Alkitab bahasa Indonesia, kata “TUHAN” ini (huruf besar semua) dibedakan dengan kata “Tuhan” (Ibrani: ‘DNY – baca: adonay) yang artinya tuan/Tuhan. Bangsa Yahudi sangat menghormati kata “YHWH” dan dianggap kudus sehingga kalau penyalin kitab suci mau menulis huruf ini, dikatakan bahwa mereka harus berhenti menulis dan mandi terlebih dahulu sebelum menuliskannya. Para pembaca kitab pun ketika bertemu dengan keempat huruf ini tidak berani membacanya dan diganti cara bacanya menjadi “adonay”. Setelah lewat beratus-ratus tahun, untuk mempermudah pembacaan bahasa Ibrani yang hanya berisi konsonan, para ahli kitab menambahkan huruf hidup a, o dan a di huruf “YHWH” supaya dapat dibaca “adonay” tetapi setelah Alkitab tersebar ke orang-orang bukan Yahudi maka dibaca langsung, bukan lagi sebagai “adonay” tetapi menjadi “YeHoWaH” dan oleh orang berbahasa Inggris menjadi “Jehovah”.
3. Allah orang Israel/Allah orang Ibrani. Allah memilih mulai dari Abraham, kemudian Ishak, lalu Yakub di mana pemilihan Allah berkembang menjadi keluarga lalu bangsa yaitu bangsa Israel. Fokus pemilihan Allah ini bukan pada bangsa Israel tetapi pada Allah yang memilih Israel. Sehingga yang harus kita ikuti dan layani adalah Allah sendiri.
Beberapa sifat Allah yang dapat dilihat dari perintah dan pengutusan Allah di Keluaran 3:
1. Melepaskan umat-Nya dari kesengsaraan. Kel 3:16: Tuhan tidak berdiam diri atas penderitaan umat pilihan-Nya, tetapi Dia mengindahkan umat-Nya (Kel 2:23-25). Allah juga peduli dan mendengar seruan kita serta melepaskan kita dari kesengsaraan kita.
2. Ingin umat-Nya mempersembahkan korban kepada-Nya. Kel 3:18: Musa disuruh Tuhan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan setelah itu beribadah kepada Tuhan. Allah ingin melepaskan kita dari kesengsaraan kita, namun tidak berhenti di situ, tetapi agar kita beribadah kepada Allah dan mempersembahkan korban kepada Tuhan. Ibadah/kebaktian artinya kita berbakti kepada Tuhan dengan memberikan sesuatu yang berharga (persembahan kita) kepada Tuhan. Tuhan Yesus sudah mempersembahkan korban yang paling berharga, yaitu hidup-Nya bagi kita, apakah kita sudah memberikan persembahan kepada Tuhan dengan rela dan setia?
3. Mengizinkan ada kesulitan. Kel 3:19: Allah mengizinkan penghalang bagi bangsa Israel yaitu raja Mesir. Allah justru menyuruh Musa untuk menghadapi tantangan ini. Tetapi di balik itu Allah juga menyatakan kuasa-Nya dengan memberikan 10 tulah sehingga bangsa Mesir menjadi takut kepada Allah dan memberikan perak, emas dan kain kepada bangsa Israel.(AS/05/09)
